Inovasi mutlak diperlukan bagi sebuah perusahaan agar bisa survive menjalani persaingan bisnis yang makin ketat. Seperti yang dilakukan kedai kopi populer Starbucks. Mereka berhasil menciptakan calon-calon pembeli potensial dengan memanfaatkan hegemoni ponsel pintar di masyarakat.
Para ilmuwan tengah mengembangkan alat pemompa jantung wireless yang disebut-sebut bakal bekerja lebih aman. Berbeda dari alat konvensional yang bergantung pada kabel, alat pemompa jantung wireless ini bekerja dengan mentransfer tenaga (power) melalui kulit. Sementara median yang mereka gunakan adalah medan magnetik.
Tak hanya Nokia, produsen ponsel dunia lainnya, Samsung, ternyata juga tengah mengembangkan modem untuk teknologi Long Term Evolution (LTE). Perusahaan asal Korea Selatan itu bahkan berani mengklaim bahwa kecepatan download dari modem LTE besutannya tersebut bisa menembus angka 100 Mbps, sedangkan untuk upload mampu hingga 50 Mbps.
Sebuah perusahaan pengembang software mencoba mengais keuntungan dengan menawarkan sebuah aplikasi untuk para pengendara di jalan. Adalah PhantomAlert, bekerja dengan mengandalkan GPS, dan dikatakan mampu mendeteksi keberadaan speed trap, kamera yang ditempatkan di lampu lalu lintas serta 200 ribu media pengawas dan peringatan lainnya.
The Wireless Power Consortium mengumumkan draft standarisasi untuk teknologi wireless charging. Dengan adanya standarasisasi diharapkan penggunaan teknologi ini dapat meluas ke berbagai perangkat elektronik.
Ada-ada saja cara para pemangku kepentingan untuk membuat sarana transportasi umum semisal, bus dan kereta dilirik masyarakat. Tak hanya bersih dan terawat, angkutan umum tersebut diusulkan juga sudah harus dilengkapi oleh akses internet wireless (Wi-Fi) gratis.
Teknologi Long Term Evolution (LTE) sudah mulai dipersiapkan untuk digunakan secara komersil bagi end user. Salah satu pemainnya, Nokia, bahkan telah memperkenalkan sekaligus menguji coba modem internet pertama berkemampuan LTE.